Selasa, 18 Juni 2013

Makalah kemandirian mahasiswa berasrama




BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
    Asrama Mahasiswa “ PPGT MAKASSAR” merupakan salah satu pemondokan mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Asrama ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang menjalankan program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) di  Universitas Negeri Makassar ini.
   Selain sebagai tempat pemondokan bagi mahasiswa, Asrama  “PPGT MAKASSAR”  juga merupakan salah satu wadah untuk berorganisasi. Di sini mahasiswa dapat menggali sedikit tentang cara besosialisasi dengan sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan dan meningkatkan jiwa kepemimpinan. Pembelajaran tentang bertutur kata dan menyampaikan pendapat, hingga bermusyawarah untuk mencapai mufakat sangat diterapkan dalam kehidupan berorganisasi di sini. Sehingga diharapkan setiap warganya yang telah menyelesaikan masa studinya sudah siap menyambut kehidupan di luar asrama kelak.
   Asrama juga layaknya rumah kedua bagi semua warga yang tinggal di dalamnya.           Perhatian lebih terhadap kondisi asrama, tentunya sangat diperlukan agar tercipta suasana yang nyaman bagi tiap individu yang berada di dalamnya. Karena, melalui proses ini kita dapat menjalani kemandirian dan kedewasaan yang sedang terbentuk. Semoga segala hal yang telah kita pelajari di asrama kita tercinta ini dapat menjadi bekal yang berguna di kemudian hari.
B.     Rumusan Masalah
a.       Pengertian Kemandirian
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
c.       Kemandirian dalam berasrama
d.      Kesalahan model hidup
e.       Upaya membentuk dan merealisasikan kemandirian

C.    Tujuan
a.       Agar mahasiswa/i dapat mengetahui apa itu kemandirian.
b.      Agar mahasiswa/i dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemandirian
c.       Agar mahasiswa/i dapat mengetahui kemandirian dalam berasrama.
d.      Agar mahasiswa/i dapat memiliki pemahaman mengenai kesalahan model
e.       Agar mahasiswa/i dapat membentuk dan merealisasikan kemandirian.


D.    Manfaat
Dengan adanya makalah ini kiranya dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i PPGT dalam menyikapi dan membentuk kepribadian yang mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN



A.    Kemandirian

1.      Pengertian Kemandirian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  KEMANDIRIAN adalah hal atau keadaan yang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.
Menurut Para ahli :
ü  Lie dan Prasasti (2005;26) Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya.
ü  Sujanto, kemandiraan adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perbedaan yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang dianjurkan dan yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan individu harus menjauh segala hal yang negative dan mencoba membina diri untuk selalu mengembangkan hal-hal positif.
ü  Kartono, Kemandirian berasal dari kata independence yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang mandiri, yaitu kemampuan berdiri atas kemampuan sendiri, dengan kemandirian dan tanggungjawab atas segala tingkah laku sebagi manusia dewasa dalam melaksanakan kewajibannya guna memenuhi kebutuhan sendiri.
ü  Hedug, kemandirian adalah suatu sifat memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan serta keinginan untuk mengejar sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original,  kreatif dan penuh inisiatif mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan-tindakannya, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
2.      Aspek Kemandirian
Kemandirian ditunjukkan dalam beberapa bentuk yaitu :
a.       Tanggungjawab yaitu kemampuan memikul tanggung jawab, kemampuan untuk menyelesaikan suatu tugas, mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, kemampuan menjelaskan peranan baru, memiliki prinsip mengenai apa yang benar dan apa yang salah dalam berpikir dan bertindak.
b.      Otonomi ditunjukkan dengan mengerjakan tugas sendiri yaitu suatu kondisi yang ditunjukkan dengan tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri dan bukan orang lain, dan tidak tergantung orang lain dan memiliki rasa percaya diri dan kemampuan mengurus diri sendiri.
c.       Inisiatif ditunjukkan dengan kemampuan berpikir dan bertindak secara kreatif.
d.      Kontrol diri yang kuat, ditunjukkan dengan pengendalian tindakkan dan emosi mampu mengatasi masalah dan kemampuan melihat sudut pandang orang lain.

3.      Ciri – ciri Kemandirian
Ada beberapa ciri-ciri kemandirian yaitu :
a.       Individu yang berinisiatif dalam segala hal.
b.      Mampu mengerjakan tugas rutin yang dipertanggung jawabkan padanya, tanpa mencari pertolongan dari orang lain.
c.       Memperoleh kepuasan dari pekerjaaannya.
d.      Mampu mengatasi rintangan yang dihadapi dalam mencapai kesuksesan.
e.       Mampu berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif terhadap tugas dan kegiatan yang dihadapi.
f.       Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan orang lain, dan merasa senang karna dia berani mengemukakan pendapatnya walaupun nantinya berbeda dengan orang lain.

B.     Faktor - faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Ada dua faktor yang mempengaruhi kemandirian seseorang yaitu : faktor internal dan faktor eksternal.

v  Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Yang meliputi :
a.       Usia
Pengaruh dari orang lain akan berkurang secara perlahan-lahan pada saat seseorang menginjak usia lebih tinggi.

b.      Konsep Diri
Konsep diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu tersebut memandang dan menilai keseluruhan dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya. Mereka yang memandang dan menilai dirinya mampu cenderung memiliki kemandirian dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang atau cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.

v  Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri, yang meliputi :
a.       Pendidikan
Semakin bertambahnya pengetauan yang dimiliki seseorang, kemungkinan mencoba sesuatu yang baru semakin besar sehingga orang akan lebih kreatif dan memiliki kemampuan. Dengan belajar seseorang dapat mewujudkan dirinya sendiri sehingga orang memiliki keinginan sesuatu secara tepat, tanpa tergantung pada orang lain.

b.      Interaksi sosial
Kemampuan Individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial serta mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik akan mendukung perilaku individu yang bertanggung jawab, mempunyai perasaan aman dan mampu menyele saikan segala permasalahan yang dihadapi dengan baik tidak mudah menyerah akan mendukung untuk perilaku mandiri.

c.       Sarana dan prasarana( piranti dan hardware)
Sarana dan prasarana yang lengkap atau memadai dapat  menunjang seseorang untuk hidup mandiri. Misalnya, dalam hidup berasrama jika sebuah asrama mempunyai fasilitas yang memadai untuk belajar seperti perpustakaan dengan demikian kemandirian kita tumbuh untuk belajar tanpa bergantung pada dosen atau pendidik.


C.    Kemandirian Mahasiswa Berasrama

Pentingnya kemandirian bagi Mahasiswa di asrama, dapat dilihat dari situasi yang kompleks kehidupan dewasa ini yang secara langsung atau tidak langsung yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa. Perilaku menyimpang dan kebiasaan yang mencerminkan kurangnya kesadaran diri dalam hidup mandiri. Dari pernyataan tersebut kita dapat melihat dua bentuk kemandirian yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari diasrama, bentuk tersebut yaitu :

a.       Kemandirian yang timbul dari dalam diri
Sesuai dengan pengertian kemandirian pada pembahasan sebelumnya dapat diartikan bahwa kemandirian yang timbul dari dalam diri adalah suatu prinsip yang dilandasi dan didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan rasa tanggung jawab tanpa terikat dengan pihak manapun atau orang lain.
Seseorang dikatakan memiliki kepribadian yang mandiri, jika mampu melakukan respons – respons yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons – respons yang di lakukannya sesuai dengan hakikat individu, kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya.

 Dengan kata lain orang dikatakan mempunyai jiwa mandiri yang baik adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap diri dan lingkungannya dengan cara yang matang, efesien, memuaskan dan kebahagian yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus menerus.

b.      Kemandirian yang terpaksa
Di samping kemandirian yang timbul dalam diri ada juga kemandirian bersifat negatif yaitu kemandirian yang dipengaruhi dari luar(lingkungan sosial).
Kemandirian ini biasanya sangat mendominasi perubahan sikap seseorang sesuai dengan keberadaannya dan mekanisme cara hidup di lingkungan tempat seseorang itu tinggal.
Seseorang yang secara tidak langsung menjadi mandiri karena terpaksa akan cenderung mengikuti pola hidup atau mekanisme hidup yang berlangsung di tempatnya berada dan kemandirian tersebut akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri karena jika seseorang sudah keluar dari lingkungan yang telah membuatnya mandiri maka  bisa saja kemandirian tersebut tidak akan muncul dan tercermin sebab kemandirian yang ada adalah kemandirian yang palsu(kemandirian yang terpaksa).
Salah satu contoh konkritnya dalam hidup berasrama;seseorang yang belum biasa jauh dari orang tua akan kelihatan mandiri namun kenyataannya tak sejalan karena sebenarnya seseorang hanya mengikuti keadaan lingkungannya( kebiasaan asrama).


D.    Kesalahan Model Hidup
Menjadi sukses adalah dambaan setiap orang. Namun, tidak semua orang dapat mengetahui dan memahami jalan menuju kesana. Kadangkala ada orang yang menggantungkan keinginan suksesnya kepada orang lain. Atau bersandar kepada ligkungan yang  menurutnya dapat membuat ia berhasil.
Banyak orang yang menjalani hidup dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun membiarkan saja orang lain mengatur apa yang harus diperbuat dan bagaimana melakukannya. Hidup mereka mengekor orang lain, bekerja, bekarya, dan melakukan tidakan bukan berdasarkan kehendak hatinya, melainkan karena pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain sebagai model yang sangat memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka lebih menyukai pengaruh orang lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan dalam hatinya. Dalam kehidupan ini kita sering kali menemukan beberapa model kehidupan seperti berikut :
a.       Orang yang hidupnya didikte orang lain.
b.      Orang yang seolah-olah hidup bergerak secara otomatis.
c.       Orang yang hidupnya hanya mengekor orang lain.

Merupakan sebuah kebodohan kalau kemudian kita menyia-nyiakan kehidupan yang sangat mengagumkan ini dengan hanya  didikte oleh orang lain. Kerugian kalau membiarkan hidup secara otomatis maupun hidup hanya mengekor kepada orang lain. Memang kehidupan menghadirkan orang-orang yang sangat mengagumkan dengan hasil karya dan prestasi hidup yang luar biasa. Mereka adalah manusia dengan kemuliaan akhlak, pemimpin dengan ketajama akal dan pikiran. Kita pantas mengagumi pribadi-pribadi mulia dengan keharuman akal budi dan pikiran seperti ini. Namun seberapa pun besarnya kekaguman kita terhadap kehidupan mereka, jangan sampai mengecilkan arti kekaguman kita kepada diri sendiri.
Kehidupan menghormati orang-orang yang berani menggali kedalaman hati, melakukan inovasi dalam mempertajam kemampuan dalam diri dan menggunkannya untuk menciptakan pilihan masa depan yang ingin kita menangkan.


E.     Upaya Membentuk dan Merealisasikan Kemandirian

“ Hidup dalam Keyakinan”
Dalam hidup manusia itu diibaratkan seperti biji mangga bagaimana wujudnya jika ditanam dengan baik pasti akan tumbuh menjadi pohon mangga yang baik dan buah yang baik pula bukan malah berbuah jambu.
Segala bentuk usaha yang kita lakukan akan bernilai dan menjadi manfaat jika dilakukan dengan baik.Hal pertama yang harus disadari adalah kita harus menciptakan pikiran yang positif agar apa yang kita rubah akan bernilai positif. Yang harus kita yakini bawa “keyakinan” suatu kekuatan yang sanggup mengantarkan kita untuk meraih segala sasaran yang akan  menjadi tujuan hidup kita sekarang ini dan kedepannya.
Di bawah in akan diuraikan beberapa hal bagaimana mewujudnyatakan kemandirian itu dalam diri mahasiswa berasrama :
Ø  Selalu berupaya menambah kapasitas keilmuan, baik untuk meningkatkan kemampuan akal, pikiran maupun kemampuan dalam bertindak. Setiap peluang ilmu, ambil dan jangan sia-siakan.Karena setiap tempat, keadaan, siapapun dapat menjadi ladang ilmu bagi kita.

Ø  Latih diri selalu beramal. Karena ilmu tanpa amal adalah teori semata, tidak berdampak apa-apa bagi kita.Jadi, setelah mendapat pelajaran baru, tentu yang baik, segera amalkan.Latih agar terbiasa, hingga nantinya dapat manjadi sebuah kebiasaan  yang  baik.

Ø  Cari lingkungan yang kondusif, baik untuk berkarya  dalam dunia perkuliahan maupun dalam lingkungan sosial. Jika tujuan sukses kita didukung  pula  oleh lingkungan  yang  kondusif, cita-cita kita akan lebih mudah diwujudkan. Suatu saat, ketika kita sudah siap, tentu lebih mulia lagi kalau kita sendiri yang menciptakan lingkungan yang kondusif itu.

Ø  Jangan cengeng, tahan air mata anda di depan orang banyak di manapun juga, apalagi di asrama dan kampus misalnya bila tidak mau dianggap aneh. Anda bias dicap terlalu sensitive dan tidak kuat dalam menghadapi masalah.

Ø  Selalu siap tempur. Dalam hal ini selalu menyalakan semangat dalam diri kita setiap hari.Katakan dalam hati bahwa Anda adalah pribadi  yang tangguh dan siap mengadapi segala tantangan.

Ø  Taklukkan tantangan. Jadikan masalah sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.Belajarlah untuk menghadapinya sendiri tanpa bantuan  orang  lain.

Ø  Menjadi pribadi  yang  komunikatif. Tinggalkan pribadi  yang pendiam dan acuh pada sekitar.Ini saatnya kita menjalin komunikasi dengan lingkungan.Jadi kalau kita butuh pertolongan, orang-orang jadi tidak segan untuk membantu.

Ø  Mengakui kesalahan. Percayalah meskipun mudah diucapkan tapi susah dilakukan. Perlu kebesaran hati untuk bisa menerapkannya, apalagi kalau ternyata kita adalah pribadi dengan gengsi tinggi.

Ø  Tidak gampang terpengaruh. Dalam situasi apapun, sepanjang kita punya prinsip yang kuat dalam berusaha, jangan pedulikan apa  kata  orang, kita punya hak untuk menentukan jalan hidup kita sendiri.


























           
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dari segala pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
Jadi, dalam pembentukkan kemandirian ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu dalam diri(Internal) dan luar diri (Eksternal) sehingga dalam proses kemandirian ada sejumlah kendala yang dihadapi yaitu kesalahan model hidup. Segala sesuatu bergantung pada orang dan tidak percaya pada diri sendiri dan bisa dikatakan tidak mempunyai  prinsip hidup yang tertanam dalam d iri.
Pada keadaan yang kita hadapi, dalam kehidupan kita diasrama merupakan salah satu jalan untuk membiasakan diri kita agar menjadi pribadi yang mandiri dengan segala peraturan atau tanpa peraturan. Dari situ muncul suatu keyakinan bahwa kita bisa dikatakan “Mandiri” karena hidup mengajarkan kita sesuatu yang berawal dari “proses”.
Adapun upaya mewujud nyatakan kemandirian yaitu hidup dengan “Keyakinan” sehingga apapun yang dilakukan bisa bermanfaat bagi diri sendiri sehingga dikatakan mandiri.

B.     Saran
Dari makalah diatas, kami selaku pemakalah menyarankan agar lebih membiasakan diri untuk hidup mandiri dengan di mulai dari sekarang dan Asrama juga merupakan wadah untuk membentuk kepribadian yang mandiri.





Daftar Pustaka

Afifi, John. 2012. Mengubah Energi Negatif menjadi Positif dalam Diri; Jogjakarta: Diva Press.
Hudha, M. Atok.  2012. Menjadi Pribadi Inovatif, Kreatif, dan Mandiri yang Berspritualitas; Jogjakarta: Aditya Media Publishing.
www. Google. com 
Kumpulan Pendapat dari Mahasiswa PGSD 2012.




BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
   Asrama Mahasiswa “ PPGT MAKASSAR” merupakan salah satu pemondokan mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Asrama ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang menjalankan program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT) di  Universitas Negeri Makassar ini.
   Selain sebagai tempat pemondokan bagi mahasiswa, Asrama  “PPGT MAKASSAR”  juga merupakan salah satu wadah untuk berorganisasi. Di sini mahasiswa dapat menggali sedikit tentang cara besosialisasi dengan sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan dan meningkatkan jiwa kepemimpinan. Pembelajaran tentang bertutur kata dan menyampaikan pendapat, hingga bermusyawarah untuk mencapai mufakat sangat diterapkan dalam kehidupan berorganisasi di sini. Sehingga diharapkan setiap warganya yang telah menyelesaikan masa studinya sudah siap menyambut kehidupan di luar asrama kelak.
   Asrama juga layaknya rumah kedua bagi semua warga yang tinggal di dalamnya.           Perhatian lebih terhadap kondisi asrama, tentunya sangat diperlukan agar tercipta suasana yang nyaman bagi tiap individu yang berada di dalamnya. Karena, melalui proses ini kita dapat menjalani kemandirian dan kedewasaan yang sedang terbentuk. Semoga segala hal yang telah kita pelajari di asrama kita tercinta ini dapat menjadi bekal yang berguna di kemudian hari.
B.     Rumusan Masalah
a.       Pengertian Kemandirian
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
c.       Kemandirian dalam berasrama
d.      Kesalahan model hidup
e.       Upaya membentuk dan merealisasikan kemandirian

C.    Tujuan
a.       Agar mahasiswa/i dapat mengetahui apa itu kemandirian.
b.      Agar mahasiswa/i dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemandirian
c.       Agar mahasiswa/i dapat mengetahui kemandirian dalam berasrama.
d.      Agar mahasiswa/i dapat memiliki pemahaman mengenai kesalahan model
e.       Agar mahasiswa/i dapat membentuk dan merealisasikan kemandirian.


D.    Manfaat
Dengan adanya makalah ini kiranya dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i PPGT dalam menyikapi dan membentuk kepribadian yang mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN



A.    Kemandirian

1.      Pengertian Kemandirian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  KEMANDIRIAN adalah hal atau keadaan yang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.
Menurut Para ahli :
ü  Lie dan Prasasti (2005;26) Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya.
ü  Sujanto, kemandiraan adalah kemampuan seseorang untuk mengerti tentang perbedaan yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang dianjurkan dan yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan individu harus menjauh segala hal yang negative dan mencoba membina diri untuk selalu mengembangkan hal-hal positif.
ü  Kartono, Kemandirian berasal dari kata independence yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang mandiri, yaitu kemampuan berdirihi kebutuhan sendiri.
ü  Hedug, kemandirian adalah suatu sifat memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan serta keinginan untuk mengejar sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original,  kreatif dan penuh inisiatif mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan-tindakannya, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
2.      Aspek Kemandirian
Kemandirian ditunjukkan dalam beberapa bentuk yaitu :
a.       Tanggungjawab yaitu kemampuan memikul tanggung jawab, kemampuan untuk menyelesaikan suatu tugas, mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, kemampuan menjelaskan peranan baru, memiliki prinsip mengenai apa yang benar dan apa yang salah dalam berpikir dan bertindak.
b.      Otonomi ditunjukkan dengan mengerjakan tugas sendiri yaitu suatu kondisi yang ditunjukkan dengan tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri dan bukan orang lain, dan tidak tergantung orang lain dan memiliki rasa percaya diri dan kemampuan mengurus diri sendiri.
c.       Inisiatif ditunjukkan dengan kemampuan berpikir dan bertindak secara kreatif.
d.      Kontrol diri yang kuat, ditunjukkan dengan pengendalian tindakkan dan emosi mampu mengatasi masalah dan kemampuan melihat sudut pandang orang lain.

3.      Ciri – ciri Kemandirian
Ada beberapa ciri-ciri kemandirian yaitu :
a.       Individu yang berinisiatif dalam segala hal.
b.      Mampu mengerjakan tugas rutin yang dipertanggung jawabkan padanya, tanpa mencari pertolongan dari orang lain.
c.       Memperoleh kepuasan dari pekerjaaannya.
d.      Mampu mengatasi rintangan yang dihadapi dalam mencapai kesuksesan.
e.       Mampu berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif terhadap tugas dan kegiatan yang dihadapi.
f.       Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan orang lain, dan merasa senang karna dia berani mengemukakan pendapatnya walaupun nantinya berbeda dengan orang lain.

B.     Faktor - faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Ada dua faktor yang mempengaruhi kemandirian seseorang yaitu : faktor internal dan faktor eksternal.

v  Faktor Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Yang meliputi :
a.       Usia
Pengaruh dari orang lain akan berkurang secara perlahan-lahan pada saat seseorang menginjak usia lebih tinggi.

b.      Konsep Diri
Konsep diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu tersebut memandang dan menilai keseluruhan dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya. Mereka yang memandang dan menilai dirinya mampu cenderung memiliki kemandirian dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang atau cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.

v  Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri, yang meliputi :
a.       Pendidikan
Semakin bertambahnya pengetauan yang dimiliki seseorang, kemungkinan mencoba sesuatu yang baru semakin besar sehingga orang akan lebih kreatif dan memiliki kemampuan. Dengan belajar seseorang dapat mewujudkan dirinya sendiri sehingga orang memiliki keinginan sesuatu secara tepat, tanpa tergantung pada orang lain.

b.      Interaksi sosial
Kemampuan Individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial serta mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik akan mendukung perilaku individu yang bertanggung jawab, mempunyai perasaan aman dan mampu menyele saikan segala permasalahan yang dihadapi dengan baik tidak mudah menyerah akan mendukung untuk perilaku mandiri.

c.       Sarana dan prasarana( piranti dan hardware)
Sarana dan prasarana yang lengkap atau memadai dapat  menunjang seseorang untuk hidup mandiri. Misalnya, dalam hidup berasrama jika sebuah asrama mempunyai fasilitas yang memadai untuk belajar seperti perpustakaan dengan demikian kemandirian kita tumbuh untuk belajar tanpa bergantung pada dosen atau pendidik.


C.    Kemandirian Mahasiswa Berasrama

Pentingnya kemandirian bagi Mahasiswa di asrama, dapat dilihat dari situasi yang kompleks kehidupan dewasa ini yang secara langsung atau tidak langsung yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa. Perilaku menyimpang dan kebiasaan yang mencerminkan kurangnya kesadaran diri dalam hidup mandiri. Dari pernyataan tersebut kita dapat melihat dua bentuk kemandirian yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari diasrama, bentuk tersebut yaitu :

a.       Kemandirian yang timbul dari dalam diri
Sesuai dengan pengertian kemandirian pada pembahasan sebelumnya dapat diartikan bahwa kemandirian yang timbul dari dalam diri adalah suatu prinsip yang dilandasi dan didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan rasa tanggung jawab tanpa terikat dengan pihak manapun atau orang lain.
Seseorang dikatakan memiliki kepribadian yang mandiri, jika mampu melakukan respons – respons yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons – respons yang di lakukannya sesuai dengan hakikat individu, kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya.

 Dengan kata lain orang dikatakan mempunyai jiwa mandiri yang baik adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap diri dan lingkungannya dengan cara yang matang, efesien, memuaskan dan kebahagian yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus menerus.

b.      Kemandirian yang terpaksa
Di samping kemandirian yang timbul dalam diri ada juga kemandirian bersifat negatif yaitu kemandirian yang dipengaruhi dari luar(lingkungan sosial).
Kemandirian ini biasanya sangat mendominasi perubahan sikap seseorang sesuai dengan keberadaannya dan mekanisme cara hidup di lingkungan tempat seseorang itu tinggal.
Seseorang yang secara tidak langsung menjadi mandiri karena terpaksa akan cenderung mengikuti pola hidup atau mekanisme hidup yang berlangsung di tempatnya berada dan kemandirian tersebut akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri karena jika seseorang sudah keluar dari lingkungan yang telah membuatnya mandiri maka  bisa saja kemandirian tersebut tidak akan muncul dan tercermin sebab kemandirian yang ada adalah kemandirian yang palsu(kemandirian yang terpaksa).
Salah satu contoh konkritnya dalam hidup berasrama;seseorang yang belum biasa jauh dari orang tua akan kelihatan mandiri namun kenyataannya tak sejalan karena sebenarnya seseorang hanya mengikuti keadaan lingkungannya( kebiasaan asrama).


D.    Kesalahan Model Hidup
Menjadi sukses adalah dambaan setiap orang. Namun, tidak semua orang dapat mengetahui dan memahami jalan menuju kesana. Kadangkala ada orang yang menggantungkan keinginan suksesnya kepada orang lain. Atau bersandar kepada ligkungan yang  menurutnya dapat membuat ia berhasil.
Banyak orang yang menjalani hidup dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun membiarkan saja orang lain mengatur apa yang harus diperbuat dan bagaimana melakukannya. Hidup mereka mengekor orang lain, bekerja, bekarya, dan melakukan tidakan bukan berdasarkan kehendak hatinya, melainkan karena pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain sebagai model yang sangat memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka lebih menyukai pengaruh orang lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan dalam hatinya. Dalam kehidupan ini kita sering kali menemukan beberapa model kehidupan seperti berikut :
a.       Orang yang hidupnya didikte orang lain.
b.      Orang yang seolah-olah hidup bergerak secara otomatis.
c.       Orang yang hidupnya hanya mengekor orang lain.

Merupakan sebuah kebodohan kalau kemudian kita menyia-nyiakan kehidupan yang sangat mengagumkan ini dengan hanya  didikte oleh orang lain. Kerugian kalau membiarkan hidup secara otomatis maupun hidup hanya mengekor kepada orang lain. Memang kehidupan menghadirkan orang-orang yang sangat mengagumkan dengan hasil karya dan prestasi hidup yang luar biasa. Mereka adalah manusia dengan kemuliaan akhlak, pemimpin dengan ketajama akal dan pikiran. Kita pantas mengagumi pribadi-pribadi mulia dengan keharuman akal budi dan pikiran seperti ini. Namun seberapa pun besarnya kekaguman kita terhadap kehidupan mereka, jangan sampai mengecilkan arti kekaguman kita kepada diri sendiri.
Kehidupan menghormati orang-orang yang berani menggali kedalaman hati, melakukan inovasi dalam mempertajam kemampuan dalam diri dan menggunkannya untuk menciptakan pilihan masa depan yang ingin kita menangkan.


E.     Upaya Membentuk dan Merealisasikan Kemandirian

“ Hidup dalam Keyakinan”
Dalam hidup manusia itu diibaratkan seperti biji mangga bagaimana wujudnya jika ditanam dengan baik pasti akan tumbuh menjadi pohon mangga yang baik dan buah yang baik pula bukan malah berbuah jambu.
Segala bentuk usaha yang kita lakukan akan bernilai dan menjadi manfaat jika dilakukan dengan baik.Hal pertama yang harus disadari adalah kita harus menciptakan pikiran yang positif agar apa yang kita rubah akan bernilai positif. Yang harus kita yakini bawa “keyakinan” suatu kekuatan yang sanggup mengantarkan kita untuk meraih segala sasaran yang akan  menjadi tujuan hidup kita sekarang ini dan kedepannya.
Di bawah in akan diuraikan beberapa hal bagaimana mewujudnyatakan kemandirian itu dalam diri mahasiswa berasrama :
Ø  Selalu berupaya menambah kapasitas keilmuan, baik untuk meningkatkan kemampuan akal, pikiran maupun kemampuan dalam bertindak. Setiap peluang ilmu, ambil dan jangan sia-siakan.Karena setiap tempat, keadaan, siapapun dapat menjadi ladang ilmu bagi kita.

Ø  Latih diri selalu beramal. Karena ilmu tanpa amal adalah teori semata, tidak berdampak apa-apa bagi kita.Jadi, setelah mendapat pelajaran baru, tentu yang baik, segera amalkan.Latih agar terbiasa, hingga nantinya dapat manjadi sebuah kebiasaan  yang  baik.

Ø  Cari lingkungan yang kondusif, baik untuk berkarya  dalam dunia perkuliahan maupun dalam lingkungan sosial. Jika tujuan sukses kita didukung  pula  oleh lingkungan  yang  kondusif, cita-cita kita akan lebih mudah diwujudkan. Suatu saat, ketika kita sudah siap, tentu lebih mulia lagi kalau kita sendiri yang menciptakan lingkungan yang kondusif itu.

Ø  Jangan cengeng, tahan air mata anda di depan orang banyak di manapun juga, apalagi di asrama dan kampus misalnya bila tidak mau dianggap aneh. Anda bias dicap terlalu sensitive dan tidak kuat dalam menghadapi masalah.

Ø  Selalu siap tempur. Dalam hal ini selalu menyalakan semangat dalam diri kita setiap hari.Katakan dalam hati bahwa Anda adalah pribadi  yang tangguh dan siap mengadapi segala tantangan.

Ø  Taklukkan tantangan. Jadikan masalah sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.Belajarlah untuk menghadapinya sendiri tanpa bantuan  orang  lain.

Ø  Menjadi pribadi  yang  komunikatif. Tinggalkan pribadi  yang pendiam dan acuh pada sekitar.Ini saatnya kita menjalin komunikasi dengan lingkungan.Jadi kalau kita butuh pertolongan, orang-orang jadi tidak segan untuk membantu.

Ø  Mengakui kesalahan. Percayalah meskipun mudah diucapkan tapi susah dilakukan. Perlu kebesaran hati untuk bisa menerapkannya, apalagi kalau ternyata kita adalah pribadi dengan gengsi tinggi.

Ø  Tidak gampang terpengaruh. Dalam situasi apapun, sepanjang kita punya prinsip yang kuat dalam berusaha, jangan pedulikan apa  kata  orang, kita punya hak untuk menentukan jalan hidup kita sendiri.


























           
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dari segala pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
Jadi, dalam pembentukkan kemandirian ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu dalam diri(Internal) dan luar diri (Eksternal) sehingga dalam proses kemandirian ada sejumlah kendala yang dihadapi yaitu kesalahan model hidup. Segala sesuatu bergantung pada orang dan tidak percaya pada diri sendiri dan bisa dikatakan tidak mempunyai  prinsip hidup yang tertanam dalam d iri.
Pada keadaan yang kita hadapi, dalam kehidupan kita diasrama merupakan salah satu jalan untuk membiasakan diri kita agar menjadi pribadi yang mandiri dengan segala peraturan atau tanpa peraturan. Dari situ muncul suatu keyakinan bahwa kita bisa dikatakan “Mandiri” karena hidup mengajarkan kita sesuatu yang berawal dari “proses”.
Adapun upaya mewujud nyatakan kemandirian yaitu hidup dengan “Keyakinan” sehingga apapun yang dilakukan bisa bermanfaat bagi diri sendiri sehingga dikatakan mandiri.

B.     Saran
Dari makalah diatas, kami selaku pemakalah menyarankan agar lebih membiasakan diri untuk hidup mandiri dengan di mulai dari sekarang dan Asrama juga merupakan wadah untuk membentuk kepribadian yang mandiri.





Daftar Pustaka

Afifi, John. 2012. Mengubah Energi Negatif menjadi Positif dalam Diri; Jogjakarta: Diva Press.
Hudha, M. Atok.  2012. Menjadi Pribadi Inovatif, Kreatif, dan Mandiri yang Berspritualitas; Jogjakarta: Aditya Media Publishing.
www. Google. com 
Kumpulan Pendapat dari Mahasiswa PGSD 2012.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar