BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Asrama Mahasiswa “ PPGT MAKASSAR” merupakan salah satu pemondokan
mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas Negeri
Makassar, Sulawesi Selatan. Asrama ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang menjalankan program
Pendidikan Profesi Guru
Terintegrasi (PPGT) di Universitas
Negeri Makassar ini.
Selain sebagai tempat pemondokan bagi mahasiswa, Asrama
“PPGT MAKASSAR” juga merupakan salah satu wadah untuk
berorganisasi. Di sini mahasiswa dapat menggali sedikit tentang cara
besosialisasi dengan sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan dan meningkatkan
jiwa kepemimpinan. Pembelajaran tentang bertutur kata dan menyampaikan pendapat,
hingga bermusyawarah untuk mencapai mufakat sangat diterapkan dalam kehidupan
berorganisasi di sini. Sehingga diharapkan setiap warganya yang telah
menyelesaikan masa studinya sudah siap menyambut kehidupan di luar asrama
kelak.
Asrama juga layaknya rumah kedua bagi semua warga yang
tinggal di dalamnya. Perhatian lebih terhadap kondisi
asrama, tentunya sangat diperlukan agar tercipta suasana yang nyaman bagi tiap
individu yang berada di dalamnya. Karena, melalui proses ini kita dapat
menjalani kemandirian dan kedewasaan yang sedang terbentuk. Semoga segala hal
yang telah kita pelajari di
asrama kita tercinta ini dapat menjadi bekal yang berguna di kemudian hari.
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian
Kemandirian
b. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemandirian
c. Kemandirian
dalam berasrama
d. Kesalahan model
hidup
e. Upaya membentuk
dan merealisasikan kemandirian
C. Tujuan
a. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui apa itu kemandirian.
b. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
kemandirian
c. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui kemandirian dalam berasrama.
d. Agar
mahasiswa/i dapat memiliki pemahaman mengenai kesalahan model
e. Agar
mahasiswa/i dapat membentuk dan merealisasikan kemandirian.
D. Manfaat
Dengan adanya makalah ini kiranya
dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i PPGT dalam menyikapi dan membentuk
kepribadian yang mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kemandirian
1. Pengertian
Kemandirian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KEMANDIRIAN adalah hal atau keadaan yang dapat berdiri sendiri tanpa
bergantung kepada orang lain.
Menurut Para
ahli :
ü Lie
dan Prasasti (2005;26)
Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari
sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan
kapasitasnya.
ü Sujanto,
kemandiraan adalah
kemampuan seseorang untuk
mengerti tentang perbedaan
yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang dianjurkan dan
yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan individu harus menjauh segala hal
yang negative dan mencoba membina diri untuk selalu mengembangkan hal-hal
positif.
ü Kartono,
Kemandirian berasal dari kata independence yang biasa diartikan sebagai sesuatu
yang mandiri, yaitu kemampuan berdiri atas kemampuan sendiri, dengan
kemandirian dan tanggungjawab atas segala tingkah laku sebagi manusia dewasa
dalam melaksanakan kewajibannya guna memenuhi
kebutuhan sendiri.
ü Hedug,
kemandirian adalah suatu sifat memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas
melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh
ketekunan serta keinginan untuk mengejar sesuatu tanpa bantuan orang lain,
mampu berpikir dan bertindak original,
kreatif dan penuh inisiatif mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu
mengendalikan tindakan-tindakannya, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai
rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan dirinya
dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak
bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan
tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
2. Aspek
Kemandirian
Kemandirian
ditunjukkan dalam beberapa bentuk yaitu :
a. Tanggungjawab
yaitu kemampuan memikul tanggung jawab, kemampuan untuk menyelesaikan suatu
tugas, mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, kemampuan menjelaskan
peranan baru, memiliki prinsip mengenai apa yang benar dan apa yang salah dalam
berpikir dan bertindak.
b. Otonomi
ditunjukkan dengan mengerjakan tugas sendiri yaitu suatu kondisi yang
ditunjukkan dengan tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri dan bukan
orang lain, dan tidak tergantung orang lain dan memiliki rasa percaya diri dan
kemampuan mengurus diri sendiri.
c. Inisiatif
ditunjukkan dengan kemampuan berpikir dan bertindak secara kreatif.
d. Kontrol
diri yang kuat, ditunjukkan dengan pengendalian tindakkan dan emosi mampu
mengatasi masalah dan kemampuan melihat sudut pandang orang lain.
3. Ciri – ciri Kemandirian
Ada beberapa
ciri-ciri kemandirian yaitu :
a. Individu
yang berinisiatif dalam segala hal.
b. Mampu
mengerjakan tugas rutin yang dipertanggung jawabkan padanya, tanpa mencari
pertolongan dari orang lain.
c. Memperoleh
kepuasan dari pekerjaaannya.
d. Mampu
mengatasi rintangan yang dihadapi dalam mencapai kesuksesan.
e. Mampu
berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif terhadap tugas dan kegiatan yang
dihadapi.
f. Tidak
merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan orang lain, dan merasa
senang karna dia berani mengemukakan pendapatnya walaupun nantinya berbeda
dengan orang lain.
B.
Faktor - faktor
yang Mempengaruhi Kemandirian
Ada dua faktor
yang mempengaruhi kemandirian seseorang yaitu : faktor internal dan faktor
eksternal.
v Faktor
Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Yang meliputi :
a.
Usia
Pengaruh
dari orang lain akan berkurang secara perlahan-lahan pada saat seseorang menginjak usia lebih tinggi.
b.
Konsep Diri
Konsep
diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk
menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu tersebut memandang dan
menilai keseluruhan dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya.
Mereka yang memandang dan menilai dirinya mampu cenderung memiliki kemandirian
dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang atau
cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.
v Faktor
Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri, yang meliputi :
a.
Pendidikan
Semakin
bertambahnya pengetauan yang dimiliki seseorang, kemungkinan mencoba sesuatu
yang baru semakin besar sehingga orang akan lebih kreatif dan memiliki
kemampuan. Dengan belajar seseorang dapat mewujudkan dirinya sendiri sehingga
orang memiliki keinginan sesuatu secara
tepat, tanpa tergantung pada orang lain.
b.
Interaksi sosial
Kemampuan
Individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial serta mampu melakukan
penyesuaian diri dengan baik akan mendukung perilaku individu yang bertanggung
jawab, mempunyai perasaan aman dan mampu menyele saikan segala permasalahan
yang dihadapi dengan baik tidak mudah menyerah akan mendukung untuk perilaku
mandiri.
c. Sarana dan prasarana( piranti dan hardware)
Sarana dan prasarana yang lengkap atau memadai
dapat menunjang
seseorang untuk hidup mandiri. Misalnya, dalam hidup berasrama jika sebuah
asrama mempunyai fasilitas yang memadai untuk belajar seperti perpustakaan
dengan demikian kemandirian kita tumbuh untuk belajar tanpa bergantung pada
dosen atau pendidik.
C.
Kemandirian Mahasiswa Berasrama
Pentingnya kemandirian bagi Mahasiswa di asrama, dapat dilihat dari situasi
yang kompleks kehidupan dewasa ini yang secara langsung atau tidak langsung
yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa. Perilaku menyimpang dan kebiasaan yang
mencerminkan kurangnya kesadaran diri dalam hidup mandiri. Dari pernyataan
tersebut kita dapat melihat dua bentuk kemandirian yang nyata dalam kehidupan
kita sehari-hari diasrama, bentuk tersebut yaitu :
a.
Kemandirian yang timbul
dari dalam diri
Sesuai dengan
pengertian kemandirian pada pembahasan sebelumnya dapat diartikan bahwa
kemandirian yang timbul dari dalam diri adalah suatu prinsip yang dilandasi dan
didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan rasa tanggung jawab tanpa
terikat dengan pihak manapun atau orang lain.
Seseorang dikatakan
memiliki kepribadian yang mandiri, jika mampu melakukan respons – respons yang
matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respon
dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons –
respons yang di lakukannya sesuai dengan hakikat individu, kelompok antar
individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya.
Dengan kata lain orang dikatakan mempunyai
jiwa mandiri yang baik adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap
diri dan lingkungannya dengan cara yang matang, efesien, memuaskan dan
kebahagian yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus
menerus.
b.
Kemandirian yang
terpaksa
Di
samping kemandirian yang timbul dalam diri ada juga kemandirian bersifat negatif
yaitu kemandirian yang dipengaruhi dari luar(lingkungan sosial).
Kemandirian
ini biasanya sangat mendominasi perubahan sikap seseorang sesuai dengan
keberadaannya dan mekanisme cara hidup di lingkungan tempat seseorang itu
tinggal.
Seseorang
yang secara tidak langsung menjadi mandiri karena terpaksa akan cenderung
mengikuti pola hidup atau mekanisme hidup yang berlangsung di tempatnya berada
dan kemandirian tersebut akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri karena
jika seseorang sudah keluar dari lingkungan yang telah membuatnya mandiri
maka bisa saja kemandirian tersebut
tidak akan muncul dan tercermin sebab kemandirian yang ada adalah kemandirian
yang palsu(kemandirian yang terpaksa).
Salah
satu contoh konkritnya dalam hidup berasrama;seseorang yang belum biasa jauh
dari orang tua akan kelihatan mandiri namun kenyataannya tak sejalan karena
sebenarnya seseorang hanya mengikuti keadaan lingkungannya( kebiasaan asrama).
D.
Kesalahan Model Hidup
Menjadi sukses adalah dambaan setiap orang. Namun,
tidak semua orang dapat mengetahui
dan memahami jalan menuju kesana. Kadangkala ada orang yang menggantungkan
keinginan suksesnya kepada orang lain. Atau bersandar kepada ligkungan
yang menurutnya dapat membuat ia
berhasil.
Banyak orang yang menjalani hidup dari hari ke hari,
bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun membiarkan saja orang lain mengatur apa
yang harus diperbuat dan bagaimana melakukannya. Hidup mereka mengekor orang
lain, bekerja, bekarya, dan melakukan tidakan bukan berdasarkan kehendak
hatinya, melainkan karena pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain
sebagai model yang sangat memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka
lebih menyukai pengaruh orang lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan
dalam hatinya. Dalam kehidupan ini kita sering kali menemukan beberapa model
kehidupan seperti berikut :
a. Orang
yang hidupnya didikte orang lain.
b. Orang
yang seolah-olah hidup bergerak secara otomatis.
c. Orang
yang hidupnya hanya mengekor orang lain.
Merupakan sebuah kebodohan kalau kemudian kita
menyia-nyiakan kehidupan yang sangat mengagumkan ini dengan hanya didikte oleh orang lain. Kerugian kalau
membiarkan hidup secara otomatis maupun hidup hanya mengekor kepada orang lain.
Memang kehidupan menghadirkan orang-orang yang sangat mengagumkan dengan hasil
karya dan prestasi hidup yang luar biasa. Mereka adalah manusia dengan
kemuliaan akhlak, pemimpin dengan ketajama akal dan pikiran. Kita pantas
mengagumi pribadi-pribadi mulia dengan keharuman akal budi dan pikiran seperti
ini. Namun seberapa pun besarnya kekaguman kita terhadap kehidupan mereka,
jangan sampai mengecilkan arti kekaguman kita kepada diri sendiri.
Kehidupan menghormati orang-orang yang berani
menggali kedalaman hati, melakukan inovasi dalam mempertajam kemampuan dalam
diri dan menggunkannya untuk menciptakan pilihan masa depan yang ingin kita
menangkan.
E.
Upaya Membentuk dan Merealisasikan Kemandirian
“ Hidup dalam Keyakinan”
Dalam hidup manusia
itu diibaratkan seperti biji mangga bagaimana wujudnya jika ditanam dengan baik
pasti akan tumbuh menjadi pohon mangga yang baik dan buah yang baik pula bukan
malah berbuah jambu.
Segala bentuk usaha yang kita lakukan akan bernilai dan
menjadi manfaat jika dilakukan dengan baik.Hal pertama yang harus disadari
adalah kita harus menciptakan pikiran yang positif agar apa yang kita rubah
akan bernilai positif. Yang harus kita yakini bawa “keyakinan” suatu kekuatan
yang sanggup mengantarkan kita untuk meraih segala sasaran yang akan menjadi tujuan hidup kita sekarang ini dan
kedepannya.
Di bawah in akan diuraikan beberapa hal bagaimana
mewujudnyatakan kemandirian itu dalam diri mahasiswa berasrama :
Ø Selalu berupaya menambah kapasitas keilmuan,
baik untuk meningkatkan kemampuan akal,
pikiran maupun kemampuan dalam bertindak.
Setiap peluang ilmu,
ambil dan jangan sia-siakan.Karena setiap tempat,
keadaan, siapapun dapat menjadi ladang ilmu bagi kita.
Ø Latih diri selalu beramal. Karena ilmu tanpa amal adalah teori semata, tidak berdampak apa-apa bagi kita.Jadi, setelah mendapat pelajaran baru, tentu yang baik, segera amalkan.Latih agar terbiasa, hingga nantinya dapat manjadi sebuah kebiasaan yang baik.
Ø Cari lingkungan yang kondusif, baik untuk berkarya dalam dunia perkuliahan maupun dalam lingkungan sosial.
Jika tujuan sukses kita didukung pula oleh lingkungan
yang kondusif, cita-cita kita akan lebih mudah diwujudkan.
Suatu saat, ketika kita sudah siap,
tentu lebih mulia lagi kalau kita sendiri
yang menciptakan lingkungan yang
kondusif itu.
Ø Jangan cengeng, tahan air mata anda di depan orang banyak di manapun juga, apalagi di asrama dan kampus misalnya bila tidak mau dianggap aneh.
Anda bias dicap terlalu sensitive dan tidak kuat dalam menghadapi masalah.
Ø Selalu siap tempur.
Dalam hal ini selalu menyalakan semangat dalam diri kita setiap hari.Katakan dalam hati bahwa Anda adalah pribadi yang tangguh dan siap mengadapi segala tantangan.
Ø Taklukkan tantangan. Jadikan masalah sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.Belajarlah untuk menghadapinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Ø Menjadi pribadi yang komunikatif. Tinggalkan pribadi yang pendiam dan acuh pada sekitar.Ini saatnya kita menjalin komunikasi dengan lingkungan.Jadi kalau kita butuh pertolongan, orang-orang jadi tidak segan untuk membantu.
Ø Mengakui kesalahan. Percayalah meskipun mudah diucapkan tapi susah dilakukan.
Perlu kebesaran hati untuk bisa
menerapkannya, apalagi kalau ternyata kita adalah pribadi dengan gengsi tinggi.
Ø Tidak gampang terpengaruh.
Dalam situasi apapun,
sepanjang kita punya prinsip
yang kuat dalam berusaha,
jangan pedulikan apa
kata orang, kita punya hak untuk menentukan jalan hidup kita sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari segala pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri,
dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan
mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
Jadi, dalam pembentukkan kemandirian ada beberapa faktor
yang mempengaruhi yaitu dalam diri(Internal) dan luar diri (Eksternal) sehingga
dalam proses kemandirian ada sejumlah kendala yang dihadapi yaitu kesalahan
model hidup. Segala sesuatu bergantung pada orang dan tidak percaya pada diri
sendiri dan bisa dikatakan tidak mempunyai
prinsip hidup yang tertanam dalam d iri.
Pada keadaan yang kita hadapi, dalam kehidupan kita
diasrama merupakan salah satu jalan untuk membiasakan diri kita agar menjadi
pribadi yang mandiri dengan segala peraturan atau tanpa peraturan. Dari situ
muncul suatu keyakinan bahwa kita bisa dikatakan “Mandiri” karena hidup
mengajarkan kita sesuatu yang berawal dari “proses”.
Adapun upaya mewujud nyatakan kemandirian yaitu hidup
dengan “Keyakinan” sehingga apapun yang dilakukan bisa bermanfaat bagi diri
sendiri sehingga dikatakan mandiri.
B.
Saran
Dari makalah diatas, kami selaku pemakalah menyarankan
agar lebih membiasakan diri untuk hidup mandiri dengan di mulai dari sekarang
dan Asrama juga merupakan wadah untuk membentuk kepribadian yang mandiri.
Daftar Pustaka
Afifi, John. 2012. Mengubah
Energi Negatif menjadi Positif dalam Diri; Jogjakarta: Diva Press.
Hudha, M. Atok.
2012. Menjadi Pribadi Inovatif,
Kreatif, dan Mandiri yang Berspritualitas; Jogjakarta: Aditya Media
Publishing.
www. Google. com
Kumpulan Pendapat dari Mahasiswa PGSD 2012.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Asrama Mahasiswa “ PPGT MAKASSAR” merupakan salah satu pemondokan
mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas Negeri
Makassar, Sulawesi Selatan. Asrama ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang sedang menjalankan program
Pendidikan Profesi Guru
Terintegrasi (PPGT) di Universitas
Negeri Makassar ini.
Selain sebagai tempat pemondokan bagi mahasiswa, Asrama
“PPGT MAKASSAR” juga merupakan salah satu wadah untuk
berorganisasi. Di sini mahasiswa dapat menggali sedikit tentang cara
besosialisasi dengan sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan dan meningkatkan
jiwa kepemimpinan. Pembelajaran tentang bertutur kata dan menyampaikan pendapat,
hingga bermusyawarah untuk mencapai mufakat sangat diterapkan dalam kehidupan
berorganisasi di sini. Sehingga diharapkan setiap warganya yang telah
menyelesaikan masa studinya sudah siap menyambut kehidupan di luar asrama
kelak.
Asrama juga layaknya rumah kedua bagi semua warga yang
tinggal di dalamnya. Perhatian lebih terhadap kondisi
asrama, tentunya sangat diperlukan agar tercipta suasana yang nyaman bagi tiap
individu yang berada di dalamnya. Karena, melalui proses ini kita dapat
menjalani kemandirian dan kedewasaan yang sedang terbentuk. Semoga segala hal
yang telah kita pelajari di
asrama kita tercinta ini dapat menjadi bekal yang berguna di kemudian hari.
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian
Kemandirian
b. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemandirian
c. Kemandirian
dalam berasrama
d. Kesalahan model
hidup
e. Upaya membentuk
dan merealisasikan kemandirian
C. Tujuan
a. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui apa itu kemandirian.
b. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
kemandirian
c. Agar
mahasiswa/i dapat mengetahui kemandirian dalam berasrama.
d. Agar
mahasiswa/i dapat memiliki pemahaman mengenai kesalahan model
e. Agar
mahasiswa/i dapat membentuk dan merealisasikan kemandirian.
D. Manfaat
Dengan adanya makalah ini kiranya
dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i PPGT dalam menyikapi dan membentuk
kepribadian yang mandiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kemandirian
1. Pengertian
Kemandirian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KEMANDIRIAN adalah hal atau keadaan yang dapat berdiri sendiri tanpa
bergantung kepada orang lain.
Menurut Para
ahli :
ü Lie
dan Prasasti (2005;26)
Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari
sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan
kapasitasnya.
ü Sujanto,
kemandiraan adalah
kemampuan seseorang untuk
mengerti tentang perbedaan
yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang dilarang, yang dianjurkan dan
yang dicegah, yang baik dan yang buruk, dan individu harus menjauh segala hal
yang negative dan mencoba membina diri untuk selalu mengembangkan hal-hal
positif.
ü Kartono,
Kemandirian berasal dari kata independence yang biasa diartikan sebagai sesuatu
yang mandiri, yaitu kemampuan berdirihi
kebutuhan sendiri.
ü Hedug,
kemandirian adalah suatu sifat memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas
melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri, mengejar prestasi, penuh
ketekunan serta keinginan untuk mengejar sesuatu tanpa bantuan orang lain,
mampu berpikir dan bertindak original,
kreatif dan penuh inisiatif mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu
mengendalikan tindakan-tindakannya, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai
rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan dirinya
dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, dalam arti tidak
bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan mampu melaksanakan
tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
2. Aspek
Kemandirian
Kemandirian
ditunjukkan dalam beberapa bentuk yaitu :
a. Tanggungjawab
yaitu kemampuan memikul tanggung jawab, kemampuan untuk menyelesaikan suatu
tugas, mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjanya, kemampuan menjelaskan
peranan baru, memiliki prinsip mengenai apa yang benar dan apa yang salah dalam
berpikir dan bertindak.
b. Otonomi
ditunjukkan dengan mengerjakan tugas sendiri yaitu suatu kondisi yang
ditunjukkan dengan tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri dan bukan
orang lain, dan tidak tergantung orang lain dan memiliki rasa percaya diri dan
kemampuan mengurus diri sendiri.
c. Inisiatif
ditunjukkan dengan kemampuan berpikir dan bertindak secara kreatif.
d. Kontrol
diri yang kuat, ditunjukkan dengan pengendalian tindakkan dan emosi mampu
mengatasi masalah dan kemampuan melihat sudut pandang orang lain.
3. Ciri – ciri Kemandirian
Ada beberapa
ciri-ciri kemandirian yaitu :
a. Individu
yang berinisiatif dalam segala hal.
b. Mampu
mengerjakan tugas rutin yang dipertanggung jawabkan padanya, tanpa mencari
pertolongan dari orang lain.
c. Memperoleh
kepuasan dari pekerjaaannya.
d. Mampu
mengatasi rintangan yang dihadapi dalam mencapai kesuksesan.
e. Mampu
berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif terhadap tugas dan kegiatan yang
dihadapi.
f. Tidak
merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan orang lain, dan merasa
senang karna dia berani mengemukakan pendapatnya walaupun nantinya berbeda
dengan orang lain.
B.
Faktor - faktor
yang Mempengaruhi Kemandirian
Ada dua faktor
yang mempengaruhi kemandirian seseorang yaitu : faktor internal dan faktor
eksternal.
v Faktor
Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Yang meliputi :
a.
Usia
Pengaruh
dari orang lain akan berkurang secara perlahan-lahan pada saat seseorang menginjak usia lebih tinggi.
b.
Konsep Diri
Konsep
diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk
menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu tersebut memandang dan
menilai keseluruhan dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya.
Mereka yang memandang dan menilai dirinya mampu cenderung memiliki kemandirian
dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang atau
cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.
v Faktor
Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri, yang meliputi :
a.
Pendidikan
Semakin
bertambahnya pengetauan yang dimiliki seseorang, kemungkinan mencoba sesuatu
yang baru semakin besar sehingga orang akan lebih kreatif dan memiliki
kemampuan. Dengan belajar seseorang dapat mewujudkan dirinya sendiri sehingga
orang memiliki keinginan sesuatu secara
tepat, tanpa tergantung pada orang lain.
b.
Interaksi sosial
Kemampuan
Individu dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial serta mampu melakukan
penyesuaian diri dengan baik akan mendukung perilaku individu yang bertanggung
jawab, mempunyai perasaan aman dan mampu menyele saikan segala permasalahan
yang dihadapi dengan baik tidak mudah menyerah akan mendukung untuk perilaku
mandiri.
c. Sarana dan prasarana( piranti dan hardware)
Sarana dan prasarana yang lengkap atau memadai
dapat menunjang
seseorang untuk hidup mandiri. Misalnya, dalam hidup berasrama jika sebuah
asrama mempunyai fasilitas yang memadai untuk belajar seperti perpustakaan
dengan demikian kemandirian kita tumbuh untuk belajar tanpa bergantung pada
dosen atau pendidik.
C.
Kemandirian Mahasiswa Berasrama
Pentingnya kemandirian bagi Mahasiswa di asrama, dapat dilihat dari situasi
yang kompleks kehidupan dewasa ini yang secara langsung atau tidak langsung
yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa. Perilaku menyimpang dan kebiasaan yang
mencerminkan kurangnya kesadaran diri dalam hidup mandiri. Dari pernyataan
tersebut kita dapat melihat dua bentuk kemandirian yang nyata dalam kehidupan
kita sehari-hari diasrama, bentuk tersebut yaitu :
a.
Kemandirian yang timbul
dari dalam diri
Sesuai dengan
pengertian kemandirian pada pembahasan sebelumnya dapat diartikan bahwa
kemandirian yang timbul dari dalam diri adalah suatu prinsip yang dilandasi dan
didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan rasa tanggung jawab tanpa
terikat dengan pihak manapun atau orang lain.
Seseorang dikatakan
memiliki kepribadian yang mandiri, jika mampu melakukan respons – respons yang
matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Efisien artinya mampu melakukan respon
dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Sehat artinya respons –
respons yang di lakukannya sesuai dengan hakikat individu, kelompok antar
individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya.
Dengan kata lain orang dikatakan mempunyai
jiwa mandiri yang baik adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap
diri dan lingkungannya dengan cara yang matang, efesien, memuaskan dan
kebahagian yang mengandung realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus
menerus.
b.
Kemandirian yang
terpaksa
Di
samping kemandirian yang timbul dalam diri ada juga kemandirian bersifat negatif
yaitu kemandirian yang dipengaruhi dari luar(lingkungan sosial).
Kemandirian
ini biasanya sangat mendominasi perubahan sikap seseorang sesuai dengan
keberadaannya dan mekanisme cara hidup di lingkungan tempat seseorang itu
tinggal.
Seseorang
yang secara tidak langsung menjadi mandiri karena terpaksa akan cenderung
mengikuti pola hidup atau mekanisme hidup yang berlangsung di tempatnya berada
dan kemandirian tersebut akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri karena
jika seseorang sudah keluar dari lingkungan yang telah membuatnya mandiri
maka bisa saja kemandirian tersebut
tidak akan muncul dan tercermin sebab kemandirian yang ada adalah kemandirian
yang palsu(kemandirian yang terpaksa).
Salah
satu contoh konkritnya dalam hidup berasrama;seseorang yang belum biasa jauh
dari orang tua akan kelihatan mandiri namun kenyataannya tak sejalan karena
sebenarnya seseorang hanya mengikuti keadaan lingkungannya( kebiasaan asrama).
D.
Kesalahan Model Hidup
Menjadi sukses adalah dambaan setiap orang. Namun,
tidak semua orang dapat mengetahui
dan memahami jalan menuju kesana. Kadangkala ada orang yang menggantungkan
keinginan suksesnya kepada orang lain. Atau bersandar kepada ligkungan
yang menurutnya dapat membuat ia
berhasil.
Banyak orang yang menjalani hidup dari hari ke hari,
bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun membiarkan saja orang lain mengatur apa
yang harus diperbuat dan bagaimana melakukannya. Hidup mereka mengekor orang
lain, bekerja, bekarya, dan melakukan tidakan bukan berdasarkan kehendak
hatinya, melainkan karena pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain
sebagai model yang sangat memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka
lebih menyukai pengaruh orang lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan
dalam hatinya. Dalam kehidupan ini kita sering kali menemukan beberapa model
kehidupan seperti berikut :
a. Orang
yang hidupnya didikte orang lain.
b. Orang
yang seolah-olah hidup bergerak secara otomatis.
c. Orang
yang hidupnya hanya mengekor orang lain.
Merupakan sebuah kebodohan kalau kemudian kita
menyia-nyiakan kehidupan yang sangat mengagumkan ini dengan hanya didikte oleh orang lain. Kerugian kalau
membiarkan hidup secara otomatis maupun hidup hanya mengekor kepada orang lain.
Memang kehidupan menghadirkan orang-orang yang sangat mengagumkan dengan hasil
karya dan prestasi hidup yang luar biasa. Mereka adalah manusia dengan
kemuliaan akhlak, pemimpin dengan ketajama akal dan pikiran. Kita pantas
mengagumi pribadi-pribadi mulia dengan keharuman akal budi dan pikiran seperti
ini. Namun seberapa pun besarnya kekaguman kita terhadap kehidupan mereka,
jangan sampai mengecilkan arti kekaguman kita kepada diri sendiri.
Kehidupan menghormati orang-orang yang berani
menggali kedalaman hati, melakukan inovasi dalam mempertajam kemampuan dalam
diri dan menggunkannya untuk menciptakan pilihan masa depan yang ingin kita
menangkan.
E.
Upaya Membentuk dan Merealisasikan Kemandirian
“ Hidup dalam Keyakinan”
Dalam hidup manusia
itu diibaratkan seperti biji mangga bagaimana wujudnya jika ditanam dengan baik
pasti akan tumbuh menjadi pohon mangga yang baik dan buah yang baik pula bukan
malah berbuah jambu.
Segala bentuk usaha yang kita lakukan akan bernilai dan
menjadi manfaat jika dilakukan dengan baik.Hal pertama yang harus disadari
adalah kita harus menciptakan pikiran yang positif agar apa yang kita rubah
akan bernilai positif. Yang harus kita yakini bawa “keyakinan” suatu kekuatan
yang sanggup mengantarkan kita untuk meraih segala sasaran yang akan menjadi tujuan hidup kita sekarang ini dan
kedepannya.
Di bawah in akan diuraikan beberapa hal bagaimana
mewujudnyatakan kemandirian itu dalam diri mahasiswa berasrama :
Ø Selalu berupaya menambah kapasitas keilmuan,
baik untuk meningkatkan kemampuan akal,
pikiran maupun kemampuan dalam bertindak.
Setiap peluang ilmu,
ambil dan jangan sia-siakan.Karena setiap tempat,
keadaan, siapapun dapat menjadi ladang ilmu bagi kita.
Ø Latih diri selalu beramal. Karena ilmu tanpa amal adalah teori semata, tidak berdampak apa-apa bagi kita.Jadi, setelah mendapat pelajaran baru, tentu yang baik, segera amalkan.Latih agar terbiasa, hingga nantinya dapat manjadi sebuah kebiasaan yang baik.
Ø Cari lingkungan yang kondusif, baik untuk berkarya dalam dunia perkuliahan maupun dalam lingkungan sosial.
Jika tujuan sukses kita didukung pula oleh lingkungan
yang kondusif, cita-cita kita akan lebih mudah diwujudkan.
Suatu saat, ketika kita sudah siap,
tentu lebih mulia lagi kalau kita sendiri
yang menciptakan lingkungan yang
kondusif itu.
Ø Jangan cengeng, tahan air mata anda di depan orang banyak di manapun juga, apalagi di asrama dan kampus misalnya bila tidak mau dianggap aneh.
Anda bias dicap terlalu sensitive dan tidak kuat dalam menghadapi masalah.
Ø Selalu siap tempur.
Dalam hal ini selalu menyalakan semangat dalam diri kita setiap hari.Katakan dalam hati bahwa Anda adalah pribadi yang tangguh dan siap mengadapi segala tantangan.
Ø Taklukkan tantangan. Jadikan masalah sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.Belajarlah untuk menghadapinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Ø Menjadi pribadi yang komunikatif. Tinggalkan pribadi yang pendiam dan acuh pada sekitar.Ini saatnya kita menjalin komunikasi dengan lingkungan.Jadi kalau kita butuh pertolongan, orang-orang jadi tidak segan untuk membantu.
Ø Mengakui kesalahan. Percayalah meskipun mudah diucapkan tapi susah dilakukan.
Perlu kebesaran hati untuk bisa
menerapkannya, apalagi kalau ternyata kita adalah pribadi dengan gengsi tinggi.
Ø Tidak gampang terpengaruh.
Dalam situasi apapun,
sepanjang kita punya prinsip
yang kuat dalam berusaha,
jangan pedulikan apa
kata orang, kita punya hak untuk menentukan jalan hidup kita sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari segala pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri,
dalam arti tidak bergantung pada orang lain dalam menentukan keputusan dan
mampu melaksanakan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.
Jadi, dalam pembentukkan kemandirian ada beberapa faktor
yang mempengaruhi yaitu dalam diri(Internal) dan luar diri (Eksternal) sehingga
dalam proses kemandirian ada sejumlah kendala yang dihadapi yaitu kesalahan
model hidup. Segala sesuatu bergantung pada orang dan tidak percaya pada diri
sendiri dan bisa dikatakan tidak mempunyai
prinsip hidup yang tertanam dalam d iri.
Pada keadaan yang kita hadapi, dalam kehidupan kita
diasrama merupakan salah satu jalan untuk membiasakan diri kita agar menjadi
pribadi yang mandiri dengan segala peraturan atau tanpa peraturan. Dari situ
muncul suatu keyakinan bahwa kita bisa dikatakan “Mandiri” karena hidup
mengajarkan kita sesuatu yang berawal dari “proses”.
Adapun upaya mewujud nyatakan kemandirian yaitu hidup
dengan “Keyakinan” sehingga apapun yang dilakukan bisa bermanfaat bagi diri
sendiri sehingga dikatakan mandiri.
B.
Saran
Dari makalah diatas, kami selaku pemakalah menyarankan
agar lebih membiasakan diri untuk hidup mandiri dengan di mulai dari sekarang
dan Asrama juga merupakan wadah untuk membentuk kepribadian yang mandiri.
Daftar Pustaka
Afifi, John. 2012. Mengubah
Energi Negatif menjadi Positif dalam Diri; Jogjakarta: Diva Press.
Hudha, M. Atok.
2012. Menjadi Pribadi Inovatif,
Kreatif, dan Mandiri yang Berspritualitas; Jogjakarta: Aditya Media
Publishing.
www. Google. com
Kumpulan Pendapat dari Mahasiswa PGSD 2012.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar